• Laman

  • Kategori

  • Meta

UASBN Cermin Kinerja dan Sikap Guru

Ditulis oleh gurumandiri, pada Mei 3, 2010

Besok, tepatnya tanggal 4 Mei 2010 merupakan hari pertama pelaksanaan UASBN. Tentunya bagi pihak penyelenggara UASBN telah mempersiapkan secara optimal untuk menghadapi UASBN. Mulai dari pemerintah pusat, Provinsi, Kabupeten/kota sampai tingkat sekolah. Bagi guru dan kepala sekolah, selama masa menjelang perhelatan besar ini,  merupakan masa-masa yang sangat sibuk dalam rangka menyemai benih agar harapan kelulusan 100% bagi siswa-siswinya dapat tercapai. Selain itu, siswa sebagian besar kelas enam juga telah membekali diri dengan mengikuti berbagai macam bimbingan belajar dan try out, baik yang diselenggarakan di sekolah maupun lembaga-lembaga bimbel.

Uji Mental

Bagaimanapun persiapan yang telah dilakukan, UASBN tetap menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar siswa SD. Hal ini dapat diwajarkan sebab mereka baru pertama kali mengikuti ujian nasional yang suasananya jauh berbeda jika dibandingkan dengan ujian-ujian sekolah sebelumnya. Perbedaan yang paling mencolok adalah kehadiran pihak kepolisian yang ikut mengawasi pelaksanaan UASBN tersebut. Selain itu, walaupun sudah pernah dialami saat try out, pertukaran guru pengawas tetap menjadi sesuatu yang masih asing bagi para siswa. Apalagi bagi siswa yang memiliki kasus-kasus tertentu dalam ujian. Sebagai contoh bagi siswa yang tidak terbiasa mengerjakan soal secara mandiri. Artinya mereka memiliki kebiasaan menyontek, baik dengan melihat catatan atau saling bertukar jawaban dengan teman.

Lain halnya bagi siswa yang memang terbiasa mengerjakan soal ujian secara mandiri dan tidak bergantung dengan teman atau catatan kecil untuk contekan.  Dapat dipastikan bagi siswa-siswi tipe seperti ini lebih memiliki mental kuat dan lebih tenang dalam mengerjakan soal-soal ujian. Namun, kedua tipe siswa yang telah digambarkan sebelumnya, secara tidak langsung menggambarkan proses pembelajaran di sekolah sehari-hari.

Pada UASBN inilah kita dapat melihat hasil kinerja yang telah dituai oleh para guru selama proses pembelajaran sehari-hari. Diyakini, bagi guru yang benar-benar mengelola pembelajaran dengan benar dan sungguh-sungguh, hasilnya akan terlihat dari kesiapan mental yang dimiliki oleh siswanya. Sebaliknya, bagi guru yang melaksanakan tugasnya sekedar sebagai suatu kewajiban dan rutinitas, maka kemungkinan besar siswa-siswinya akan kelabakan mengerjakan soal-soal UASBN dalam kondisi yang pengawasan ketat.

Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang mencakup pembiasaan atau dampak pengiring dalam kehidupan siswa. Bukan sekedar siswa memperoleh nilai bagus, padahal nilai tersebut diperoleh dengan cara-cara yang tidak benar. Namun nilai yang diperoleh siswa benar-benar merupakan hasil perolehan murni atas upayanya sendiri.

Berdasarkan hasil pengamatan saya pada beberapa sekolah khususnya sekolah dasar negeri, di mana guru yang mengawasi siswa saat ujian, baik itu ulangan harian atau semester, tidak menerapkan disiplin tata tertib dalam ujian. Mereka membiarkan siswa-siswinya saling bertukar jawaban dengan teman. Bahkan lebih tragisnya lagi, kelas ditinggal dan hanya sekali-kali saja menengok kelasnya sampai ujian selesai. Seakan-akan ada paradigma bahwa bertukar jawaban pada teman saat ulangan tidak apa-apa asalkan tidak membuat gaduh kelas.

Berbagai alasan yang menjadi dasar penentu sikap guru berlaku seperti di atas. Pertama, guru berharap  agar sebagian besar anak didiknya mendapat nilai yang cukup bagus. Nilainya siswanya bagus gurupun ikut senang. Kedua, mitos bahwa guru yang ketat dalam mengawasi ujian adalah guru yang galak. Oleh karena itu,  mereka tidak mau melakukan pengawasan sebagaiamana yang seharusnya dilakukan. Ketiga, rasa kasihan guru kepada siswa juga menjadi faktor seorang guru tidak mau menegur siswa yang sebenarnya melanggar aturan ujian.

Para guru seperti ini tidak menyadari bahwa mereka telah menanamkan benih sikap ketidakjujuran pada diri siswa. Selain itu, guru sebenarya telah menjerumuskan siswa kepada situasi yang kelak sangat merugikan diri siswa itu sendiri. UASBN merupakan suatu situasi yang mencekam bagi para siswa yang tidak memiliki kebiasaan baik saat ujian. Saat seperti ini, baru terasa di mana siswa menuai kerugian sebagai korban dari sikap guru yang berpenyakit tersebut. Dipastikan siswa yang terbiasa tidak disiplin saat ujian, akan merasa gelisah dan tertekan saat UASBN.

Tentu saja para guru tipe tidak disiplin ini sangat memahami kondisi para siswanya. Mereka berharap agar pengawasan kepada siswa-siswinya saat UASBN tidak diperketat. Alhasil, jika ada guru yang disiplin dalam mengawas alias tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menukar jawaban, serta merta dicap GALAK atau KAKU. Tidak diragukan lagi sikap guru tersebut tidak disenangi oleh sebagian guru yang pragmatis (tidak disiplin). Padahal semestinya seperit itu. Seakan-akan sesuatu yang baik dinilai buruk dan yang buruk mendapat pujian.

Penyakit. Itulah sebutan yang paling cocok disandangkan kepada guru yang tidak disiplin tersebut. Kiranya memang perlu ada pembaruan terhadap sikap seperti ini. Sulit namun bisa dilakukan. Hal ini telah saya buktikan dalam pekerjaan saya sehari-hari sebagai guru. Penelitian kecil-kecilan saya lakukan di kelas yang saya kelola. Saat tahun ajaran baru, saya mengajar di kelas 4. Ketika saya memberikan soal ulangan, Saat itu saya agak terperanjat menyaksikan sebagian besar siswa saling bertukar jawaban. Baik dengan bersuara, maupun memakai isyarat. Segera saya berpikir bahwa hal ini tidak boleh dibiarkan. Pada ulangan berikutnya saya mencoba memberi pengertian untuk membangun kesadaran pada para siswa mengenai makna ujian dan kejujuran di samping memberlakukan uturan-aturan ujian. Hasil tindakan ini, baru membuahkan hasil setelah 8 bulan lamanya (hampir dua semester). Cukup lama, namun menggembirakan. Suatu hari, saya ingin menguji siswa kesiapan mental dan kejujuran siswa. Maka saat ulangan harian, saya keluar kelas untuk beberapa waktu lamanya. Di luar kelas, diam-diam saya mengamati dari balik kaca jendela, apakah ada siswa yang melanggar aturan ujian atau tidak, Alhamdulillah 15 menit berlalu tidak satu pun siswa yang saling berbicara ataupun menyontek. Sulit tapi bisa jika guru mau melakukan.

Entri ini dituliskan pada Mei 3, 2010 pada 2:48 pm dan disimpan dalam Pembelajaran. Bertanda: guru, UASBN, disilpin, ujian, siswa, kejujuran, mandiri. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: